Sabtu, 30 Oktober 2010

Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)

NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) merupakan layanan sistem pengelolaan nomor induk siswa secara nasional yang dikelola oleh Bagian Sistem Informasi Biro Perencanaan Kemdiknas yang merupakan bagian dari program Dapodik (Data Pokok Pendidikan) Kementerian Pendidikan Nasional. Layanan NISN menerapkan sistem komputerisasi yang terpusat dan online untuk pengelolaan nomor induk siswa skala nasional sesuai Standar Pengkodean yang telah ditentukan. Setiap siswa yang terdaftar pada Layanan NISN akan diberi kode pengenal identitas siswa yang bersifat unik, standar dan berlaku sepanjang masa yang membedakan satu siswa dengan siswa lainnya di seluruh sekolah se-Indonesia. Mekanisme penentuan dan pemberian kode pengenal identitas siswa tersebut prosesnya dilakukan secara otomatis oleh mesin komputer pada Pusat Layanan NISN. Penentuan dan pemberian kode pengenal identitas siswa tersebut berdasarkan pengajuan atau masukan (entry) sumber data siswa yang telah divalidasi/diverifikasi oleh setiap sekolah dan atau Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten secara online melalui web operator. Hasil dari proses pemberian kode identifikasi oleh Pusat Sistem NISN tersebut ditampilkan secara terbuka dalam batasan tertentu melalui situs NISN (http://nisn.jardiknas.org).
Tujuan dan Manfaat
  1. Mengidentifikasi setiap individu siswa (peserta didik) di seluruh sekolah se-Indonesia secara standar, konsisten dan berkesinambungan.
  2. Sebagai pusat layanan sistem pengelolaan nomor induk siswa secara online bagi Unit-unit Kerja di Kemdiknas, Dinas Pendidikan Daerah hingga Sekolah yang bersifat standar, terpadu dan akuntabel berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi terkini.
  3. Sebagai sistem pendukung program Dapodik dalam pengembangan dan penerapan program-program perencanaan pendidikan, statistik pendidikan dan program pendidikan lainnya baik di tingkat pusat, propinsi, kota, kabupaten hingga sekolah, seperti: BOS (Bantuan Operasional Sekolah), Ujian Nasional, Pangkalan Data dan Informasi Pendidikan, Sistem Informasi Manajemen Sekolah hingga Beasiswa.

Standar Pengkodean

  1. Format Pengkodean

    AAAXXXYYYY (10 karakter berupa angka)

    Keterangan:
    • AAA : tiga karakter angka menunjukkan tahun lahir
    • XXXYYYY : tujuh karakater angka menunjukkan nomor urut yang terbati menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
      • XXX : tiga karakter angka untuk pengelompokan oleh sistem, dan
      • YYYY : empat karakter angka nomor urut dalam pengelompokan XXX.
         
  2. Penjelasan Standar Pengkodean
     
    1. Pertimbangan Standar Pengkodean

      1. NISN terdiri dari 10 karakter yang seluruhnya berupa angka dengan jumlah kode yang minimal memungkinkan untuk mudah dihafal atau dituliskan untuk keperluan administrasi sekolah, misal ujian nasional atau pendaftaran sekolah.
      2. NISN tidak tergantung pada informasi atau data eksternal yang bisa berubah atau berganti setiap waktu sehingga format ini menjamin akan tetap konsisten dalam jangka waktu panjang. Oleh karena, satu-satunya informasi eksternal yang masuk dalam format kode NISN adalah tahun kelahiran siswa karena informasi ini (pasti) tetap dan tidak bergantung pada informasi di luar siswa itu sendiri.
      3. Pemilihan tahun kelahiran siswa adalah salah satu cara untuk mengefisienkan jumlah kode dalam NISN. Dengan asumsi pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% maka hanya dibutuhkan 7 karakter (maksimal 9.999.999) setelah informasi tahun kelahiran. Kemungkinan berkembang lebih dari 7 digit adalah sangat kecil karena pertumbuhan penduduk (di Indonesia) cenderung menurun dari tahun ke tahun.
      4. Jumlah kode pada 4 karakter terakhir bisa berubah (menjadi lebih atau kurang dari 4 karakter), walaupun kemungkinan untuk itu sangat kecil.
         
    2. Kelebihan Standar Pengkodean

      1. Dengan kode yang isinya sangat umum dan bersifat nasional, NISN bisa digunakan siswa selama mereka bersekolah, di jenjang apa pun, di kota/kabupaten mana pun, mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan hingga perguruan tinggi. NISN juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan instansi lain di luar Dinas Pendidikan Nasional.
      2. Karena karakter yang digunakan seluruhnya berupa angka dan jumlahnya yang relatif sedikit, proses administrasi sekolah bisa menggunakan NISN dengan mudah. Misalnya dalam pengisian lembar jawaban komputer, pengajuan data BOS, nomor peserta Ujian Nasional, dll.
      3. Adanya pengelompokan memungkinkan adanya kode-kode tertentu untuk keperluan khusus tanpa mengubah struktur dasar dari format NISN. Misalnya untuk kode "999" untuk siswa yang masuk SD di sekolah Indonesia di luar negeri atau keperluan khusus lainnya.
         
    3. Konsekuensi Standar Pengkodean

      Karena format kode NISN ini bersifat minimal makna (kecuali tahun kelahiran siswa) maka jumlah karakter yang dibutuhkan relatif sedikit. Namun demikian, format kode ini memiliki konsekuensi berikut:
       
      1. Untuk mengetahui informasi lebih rinci tentang siswa (pemilik NISN) dibutuhkan sebuah sistem penyedia informasi yang bersifat publik, mudah diakses, dan selalu up-to-date.
      2. Pemberian NISN pada siswa tidak bisa dilakukan secara manual, melainkan harus disediakan oleh sebuah sistem manajemen yang terpusat dan terpadu secara nasional untuk menghindari kesalahan atau duplikasi pemberian NISN.
      Berdasar pada konsekuensi tersebut, sejak tahun 2006 Kementerian Pendidikan Nasional membangun Layanan NISN bagian dari program Dapodik untuk pengelolaan nomor induk siswa yang terpadu dan terpusat berskala nasional yang tersedia secara luas dengan memanfaatkan teknologi internet. Saat ini layanan NISN dikelola oleh Bagian Sistem Informasi Biro Perencanaan Kemdiknas. Pusat Sistem Layanan NISN inilah yang akan bertugas sebagai pengelolaan nomor induk siswa sekaligus sebagai penyedia informasi NISN yang lebih rinci. Pada Layanan NISN juga berfungsi sebagai entry-point dari sekolah-sekolah dan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten se-Indonesia untuk menjaga validitas data siswanya. Layanan NISN akan menjaga kerahasiaan data siswa dan memastikan data siswa yang lebih rinci hanya bisa diakses oleh pihak-pihak yang memang berwenang dan berhak untuk mengetahuinya. Misal, guru di sekolah X hanya bisa melihat data siswa di sekolah X, Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten hanya bisa melihat data siswa yang ada di wilayah Kota/Kabupatennya masing-masing, demikian seterusnya. Solusi ini sejalan dengan program bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Kemdiknas, yaitu: Program Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) yang menjangkau ke seluruh kota/kabupaten dan ribuan sekolah di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar